|
Showreel
/ ATALA
April 2004 adalah tahun bersejarah bagi nama
STUDIO DG. 3 orang dari tim layout buku tahunan
SMA Gonzaga Angkatan 15 (tahun 2004) mencoba
membuat sebuah video tahunan untuk SMA-nya sendiri.
Eka Jayani Ayuningtyas Niandita, Bayu “Thole”
Adharmacilla, serta Radian “Jawa” Kanugroho
menciptakan sebuah video tahunan legal untuk
SMA mereka. Dengan mengusung nama DG yang merupakan
kepanjangan dari Digital Group, DG hanyalah
sebuah nama tim kerja yang kemudian mengikutsertakan
salah seorang teman kami, Brian Meyfarth.
Akhirnya video tahunan SMA Gonzaga yang berdurasi
1 jam 7 menit kami dapat terselesaikan dalam
waktu 3 minggu 2 hari. Pemutaran video versi
20 menit mendapat sambutan meriah dari 150 orang
yang hadir dalam promnite Kolese Gonzaga Tahun
2004 dan menjadi perhatian publik setelah ditulis
oleh dua media cetak (Hai dan Koran Jakarta).
“DG” Sendiri pada awalnya diambil dari jargon
kami, sebutan untuk orang yang kami taksir (De’
Guy atau De’ Girl) dan pada saat tim tersebut
dibuat, 4 orang yang membuatnya sedang punya
gebetan yang kemudian diplesetkan menjadi “Digital
Group”. Jawa yang saat itu masih kelas 1 SMA
kehilangan 2 orang dari tim yang membuat video
tahunan tersebut karena harus menempuh pendidikan
di kota-kota lain. Setelah mendapat persetujuan
untuk memproduksi video tahunan tahun berikutnya
–2005– dari pihak buku tahunan dan mencari tim
baru, akhirnya dengan tetap membawa nama DG,
DG berubah menjadi Digital Generation Studio.
Dengan 5 orang tim inti yaitu Jawa, Ignas, Bowo,
Harley dan Moko, terbentuklah tim video tahunan
SMA Gonzaga kedua. Hidup dalam satu ruangan
serta berkegiatan bersama selama 5 bulan lebih
tampaknya cukup membuat hati dari para anggotanya
melekat. Orang-orang inilah yang menaungi berdirinya
Komunitas STUDIO DG sekarang ini. Tanpa bekal
pendidikan formal dalam hal multimedia, berfikir,
membaca, surfing di internet dan mencoba adalah
satu-satunya modal yang membuat kami bisa melakukan
sebuah kegiatan kompleks dan rumit ini. Pembuatan
Video Tahunan tahun ini sangat berpengaruh terhadap
perkembangan kami. Karena disinilah proses pembelajaran
hingga relasi terbentuk.
Pekerjaan Video Tahunan Kolese Gonzaga Angkatan
16 tahun 2005 memaksa kami untuk mendapatkan
hal-hal yang lebih. Tuntutan serta permintaan
Jawa yang saat itu memegang jabatan sutradara
untuk menciptakan audio dan video dengan kualitas
tinggi serta membuat original soundtrack sendiri
memaksa kami (bahkan Jawa sendiri) harus memutar
otak habis-habis. Kami berhasil membuat produksi
video yang ter-cap sebagai ‘kegiatan mahal’
menjadi tidak mahal.
Diantara kesibukan serta tekanan tersebut, kami
berhasil memproduksi 2 buah film fiksi pendek
dengan durasi 15 dan 10 menit. Film yang pertama
berjudul “Sensasi”, atas usul salah Ivan Dennis
Lolong. Dibuat karena iseng dan pelepas stress
yang dibuat hanya dalam waktu 4 jam. Film inilah
yang merupakan pemicu bagi kami untuk terus
membuat film video independen hingga saat ini.
Film kedua merupakan film pesanan panitia Promnite
Gonzaga tahun 2005 sebagai film pembuka acara.
Minimnya perhatian serta ketertarikan masyarakat
Jakarta terhadap karya independen saat itu,
membuat kami memfokuskan diri pada karya-karya
independen dan berusaha membangun produksi film-film
video independen baik dokumenter maupun fiksi.
Saya –Radian “Jawa” Kanugroho–, yang menciptakan
nama “DG” sendiri tidak menyangka bahwa Digital
Group, atau Digital Generation Studio berkembang
menjadi sebuah komunitas.
Melihat lemahnya kecintaan masyarakat Indonesia
pada pada tanah airnya, pada tahun 2006, Digital
Generation Studio berubah nama menjadi STUDIO
DG (membaca DG dengan lafal Bahasa Indonesia;
Dé-Gé). Kepanjangan DG sendiri saat ini sedang
diperdebatkan. Nama yang baik serta berupa harapan
sedang dipikirkan dengan bahasa Indonesia. Untungnya
kata ‘studio’ sudah menjadi kata serapan dalam
Bahasa Indonesia. Kami pikir, untuk mencintai
tanah air sendiri, yang pertama kali harus dilakukan
adalah mengerti dan mencintai keabsahan dari
Bahasa Indonesia sendiri. Kami berusaha untuk
terus menggunakan Bahasa Indonesia dalam segala
kegiatan kami. Karena apapun yang pemerintah
lakukan tidak akan merubah dan memperbaiki kondisi
krisis nasionalisme di Indonesia, kecuali dimulai
dari individu rakyatnya sendiri.
Disisi lain, karena STUDIO DG adalah sebuah
media perealiasi imajinasi dari para anggotanya,
maka terbentuklah sebuah komunitas bernama STUDIO
DG Karyakan Imajinasi. Sementara ini, komunitas
ini masih berpusat di Ciputat.
Rapat peresmian diadakan bertepatan dengan pergantian
tahun 2007 – 2008 yang dilaksanakan di Ciputat.
Berbekal pengalaman dan pendidikan otodidak,
kesamaan tujuan dan latar belakang serta dengan
mengemban misi mengkaryakan imajinasi, menjadikan
media pembelajaran dan penyaluran kreatifitas
dalam hal multimedia dan visi mensejahterakan
anggotanya, komunitas STUDIO DG turut aktif
dalam pembuatan film independen yang saat ini
berjumlah 11 karya dan musik independen yang
berjumlah sekitar 24 lagu.
Saat ini STUDIO DG memiliki anggota aktif berjumlah
28 orang dan total anggota 64 orang di Jakarta
dan Yogyakarta (menurut statistik di facebook).
Semua memiliki hak yang sama untuk saling bantu
membantu menyalurkan karyanya. Sesuai dengan
rapat akbar kedua yang diadakan tanggal 17 hingga
19 April 2009 di puncak, terbentuklah susunan
keorganisasian dalam anggota STUDIO DG.
Dengan kegiatan dan manajemen yang ada sekarang,
STUDIO DG diharapkan tetap mengembangkan visi
dan misi serta tujuannya dalam mengembangkan
programnya serta karya-karya independen di Indonesia,
terutama Jakarta.
STUDIO DG Karyakan
Imajinasi Pictures
mempersembahkan sebuah film karya IGNAS PRADITYA
PUTRA
“ATALA”
Tonton ya di Blitz Megaplex Paris Van Java,
Bandung
Hanya diputar di hari Senin 15 Februari 2010,
bersamaan dengan film "AMBIGU"
Pk. 12.30, 14.30 dan 16.30 WIB.
|